Khutbah Jum'at: Menjadi Orang Beruntung

Jamaah jum’ah rahimakumullah

Pertama dan utama, marilah kita meningkatkan kualitas syukur kita kepada Allah Swt yang telah memberikan seluruh nikmatnya, antara lain berupa kesehatan dan kesempatan, sehingga kita dapat melaksanakan ibadah shalat Jum’at di tempat ini. Kedua, marilah shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita, Kanjeng Nabi Muhammad saw yang telah memberikan suri tauladan terbaik dalam hal akhlak yang mulia, akhlaq al-karimah. Ketiga, pada kesempatan yang berbahagia dan penuh keberkahan ini, marilah kita berhenti sejenak dan merefleksikan tentang pentingnya mempunyai kesadaran waktu agar menjadi orang yang beruntung.

Jamaah yang berbahagia

Di dunia ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Dengan dihadapkan pada perubahan, kita harus memilih di antara dua pilihan, menjadi diri yang diubah (objek perubahan) atau menjadi subyek perubahan. Saat ini kita berada dalam situasi disruptif, bahkan ada yang menyebut dengan megashift, yaitu perubahan yang sangat besar. Apakah kita memilih mendisrupsi (disrupting) ataukah didisrupsi (disrupted)? Apakah kita memilih sebagai trendsetter dan driver ataukah follower dan passanger? Jika kita merenungkan QS. Ali Imran ayat 110, seharusnya kita menjadi subyek perubahan, ukhrijat linnas, menjadi history maker dalam pengertian positif, artinya menjadi pencetak sejarah yang meninggalkan sebanyak mungkin legacy positif untuk generasi selanjutnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kita seharusnya mempunyai kesadaran sejarah (historical consciousness). Dengan kesadaran ini, kita akan menjadi subyek perubahan yang akan membuat garis kehidupan menuju masa depan yang lebih baik, bermakna dan bernilai. Dengan kesadaran ini, kita akan mampu melihat seluruh garis kehidupan yang pernah kita lewati secara positif, meskipun tidak semua yang kita harapkan bisa diwujudkan. Artinya, boleh jadi kita belum dapat mencapai tujuan yang telah kita tetapkan alias mengalami kegagalan. Dengan kesadaran ini, kita akan merefleksikan setiap momen yang pernah dilalui, baik momen keberhasilan maupun momen kegagalan, sebab orang yang berhasil bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan, namun sejauh mana kita mampu mengambil pejalaran dari setiap kegagalan tersebut.

Dengan kesadaran waktu (sejarah), kita akan selalu merefleksikan setiap momen yang pernah terjadi untuk diambil pelajaran, insight dan pelajaran agar mampu menciptakan masa depan yang lebih baik. Dengan kesadaran ini kita dapat memetakan kemampuan diri dan menyusun upaya perbaikan di masa yang akan datang. Refleksi diri akan menghasilkan ide dan nilai untuk membuat perubahan di masa depan, sebab masa depan tergantung pada apa yang kita pikirkan, rasakan dan lakukan saat ini. Berdasarkan hal ini, kita akan merefleksikan QS al-‘Ashr ayat 1-3 agar kita termasuk golongan manusia yang beruntung, sebagai lawan dari manusia yang dalam kerugian besar. Setidaknya ada empat hal yang harus kita lakukan agar kita menjadi orang yang beruntung; yaitu amanu, ‘amilu ash-shalihat, tawashaw bil-haqq, dan tawashaw bish- shabr.

Jamaah shalat jum’at yang dimulyakan Allah

Untuk menjadi orang yang beruntung, hal pertama harus kita miliki adalah iman (belief). Menurut Napoleon Hill, dalam karyanya Think and Grow Rich, jika kita menginginkan keajaiban terjadi dalam diri kita, maka ada satu hal yang harus kita miliki, yaitu belief. Belief menjadikan yakin, percaya diri, bersemangat dan optimis ketika melangkah, sebab orang yang beriman pasti berpikir visioner, berorientasi masa depan. Iman menjadikan kita sebagai pribadi yang berbasis solusi, bukan berbasis masalah. Solution-based person lebih menekankan pada upaya mencari solusi dan ikhtiar menjadi solusi dari setiap masalah dan tantangan yang kita hadapi. Sementara itu, problem- based person lebih berorientasi masa lalu, lebih banyak mengeluh dan menyalahkan situasi yang ada. Orang yang beriman meyakini adanya hari akhir, maka semua hal dilakukan agar masa depan menjadi lebih baik. Semua pikiran, perasaan, tulisan dan langkah dicurahkan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Untuk dapat menciptakan masa depan yang lebih baik, kita harus memerjelas mimpi dan tujuan hidup. Karena itu, Stephen R. Covey menekankan pentingnya habit membuat goalsetting. Semakin jelas tujuan hidup dibuat, maka semakin jelas langkah dan arah yang akan dituju. Dengan tujuan tersebut kita akan mudah membuat prioritas dalam melangkah. Kita dapat membedakan mana yang penting dan tidak penting, mana yang mendesak dan tidak mendesak. Dengan tujuan yang jelas, kita tidak akan mudah dipengaruhi oleh stressor atau distractor yang dapat mengendalikan kita jauh dari rujuan hidup sebab kitalah yang akan mengendalikan hidup kita sendiri.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Keimanan seharusnya melahirkan tindakan atau langkah yang membawa kepada kemaslahatan atau sering disebut dengan amal shalih. Tindakan yang konstruktif, kontributif dan solutif pada dasarnya merupakan manifestasi dari keimanan yang kuat. Orang yang beriman tidak akan asal melangkah atau memilih jalan, sebab setiap yang kita lakukan akan berdampak di kemudian hari. Jika banyak melakukan ‘amal shalih dan hasanah, maka kita pasti juga akan mendapatkan kebaikan di kemudian hari. Sebaliknya, jika kita banyak melakukan ‘amal yang sayyi’at, maka kita juga akan mendapatkan energi negatif di masa depan. Dengan demikian, masa depan akan menjadi seperti apa sangat tergantung pada apa yang kita pilih dan lakukan saat ini. Your future is what your mind in the present. Demikian kata Mahatman Gandhi.

Ini adalah poin kedua yang perlu dilakukan, agar kita termasuk golongan orang yang beruntung. Di dunia ini kita mengenal hukum kekekalan energi. Energi yang kita keluarkan tidak akan pernah hilang, hanya berubah bentuk. Yang jelas, setiap energi kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, setiap energi keburukan akan melahirkan keburukan pula. Hal ini sesuai dengan QS. al-Nisa ayat 85. Man-yasyfa’-syafa’atan-yakun-lahu-nashibun-minha, wa-man-yasyfa’-syafa’atan-sayyi’atan-yakun-lahu-kflun-minha. Kata orang India, kita bebas memilih drama tapi kita tidak bebas memilih karma, sebab karma tergantung pada drama yang kita mainkan. Jika kita memilih peran protagonist, maka kita akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika kita memilih peran antagonis, maka kita akan memperoleh keburukan di kemudian hari.

Jamaah shalat jum’at yang dimulyakan Allah

Menurut QS. al-‘Ashr, selain harus mempunyai iman dan beramal shalih, kita harus banyak berbagi perspektif atau sudut pandang. Hal ini terinspirasi dari kata tawashaw-bil-haqq, saling mengingatkan dengan kebenaran yang kita miliki. Dalam hal ini kita dapat memaknai “kebenaran” sebagai hasil konstruksi dari pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki atau tekuni. Dihadapkan pada persoalan dan tantangan yang selalu baru dan berubah, kita membutuhkan banyak sudut pandang atau perspektif. Mengapa demikian? Sehebat apa pun ilmu yang kita miliki, kita mempunyai keterbatasan, sebab kita berada dalam ruang dan waktu yang terbatas. Kita tidak akan mampu menjangkau hal yang belum pernah kita pelajari dan alami. Karena itu, kesadaran tentang keterbatasan ini menjadikan kita selalu belajar dan mau mendengar perspektif atau disiplin ilmu orang lain.

Apa yang terjadi jika kita bersikap merasa benar dalam melihat sebuah persoalan terlebih dalam konteks lembaga atau komunitas yang melibatkan banyak kepala atau perspektif? Tentu kita akan banyak menghadapi banyak masalah, akan banyak benturan, dan tidak akan menghasilkan alternatif pemecahan yang beragam dan komprehensif. Hal ini diingatkan oleh gusu besar dan dosen kita, Prof. M. Amin Abdullah tentang pentingnya mempunyai pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Banyak melihat, membaca dan mendengar perspektif yang beragam akan memudahkan kita dalam mewujudkan tujuan hidup yang telah kita buat. Dengan beragam perspektif, akan membuat kita melakukan antisipasi. Jika kita gagal dengan rencana A, maka kita akan segera menggunakan rencana B. jika rencana B tidak berhasil, maka kita masih mempunyai alternatif solusi lainnya. Hal ini tidak akan membuat kita stress dan stuck.

Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Hal keempat yang perlu kita lakukan agar kita tidak menjadi manusia yang merugi adalah memperbanyak tawashaw-bish-shabr, saling berbagi kesabaran. Orang yang shabra adalah yang sudah terbukti mempunyai kekuatan mental ketika dihadapkan pada berbagai persoalan dan tantangan. Orang yang shabra mempunyai tingkat resiliensi, endurance dan ketangguhan dalam setiap situasi. Kita membutuhkan best-practice atau lessons-learned yang pernah dialami oleh banyak orang, sebab bagaimanapun pengalaman kita sangat terbatas. Kita perlu mendengar banyak pihak yang sudah terbukti berhasil keluar dari situasi sulit dan krisis. Berbagai kisah dan cerita inspiratif tersebut akan mendorong dan memotivasi kita bahwa selalu ada jalan dan solusi dari setiap persoalan dan masalah yang kita hadapi.

Mungkin kita pernah merasa bahwa masalah yang kita hadapi sangat berat, belum pernah dialami orang lain. Padahal perasaan ini muncul hanya karena kita belum banyak mendengar banyak pihak yang boleh jadi lebih berat masalahnya dibandingkan kita. Dengan banyak berbagi best-practice, maka kita akan optimis dan berpikir positif, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan beban atau masalah di luar batas kemampuan kita. La- yukallifullahu-nafsan-illa-wus’aha. Hanya saja, ketika dihadapkan pada masalah dan tantangan, kita cenderung negative thinking. Karena itu, shifting paradigm, menggeser sudut pandang dengan banyak mendengar pengalaman orang lain yang sudah terbukti mempunyai kesabaran membuat kita menjadi orang yang beruntung.

Akhirnya, semoga kita dapat terhindar atau meminimalisir kerugian hidup dengan cara meningkatkan kesadaran diri terutama terkait waktu yang kita lalu. Tomorrow is today. Besok akan menjadi seperti apa tergantung pada apa yang kita pikirkan dan lakukan saat ini. Semoga semua kita lakukan dan rencanakan dimudahkan dan diberkahi oleh Allah, sehingga hidup kita selalu bernilai, bemakna dan beruntung. Segala sesuatu yang kita alami dan terjadi di sekitar kita pasti karena atas ijin Allah, sebab jika Allah tidak mengijinkan, maka kun fayakun tidak akan terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah memaknai setiap momen dengan penuh keimanan, melakukan aktifitas positif yang mendatangkan kemaslahatan, saling berbagi perspektif dan berbagi pengalaman. Dengan hal ini, insyaallah kita akan menjadi orang yang beruntung, tidak menjadi orang yang merugi sebagaimana disebutkan dalam QS. al-‘Ashr.

Oleh: Dr. Muqowim, M.Ag. (Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Founder Rumah Kearifan)

*disampaikan ketika khutbah di Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Kolom Terpopuler