NEO-SUFISM: SEMANGAT SPIRITUAL DI ZAMAN MATERIALISTIS
Kajian Tematik FIlsafat Islam
NEO-SUFISM: SEMANGAT SPIRITUAL DI ZAMAN MATERIALISTIS
Oleh: Muhammad Khothibul Umam
Post-Modernisme atau sebagian lain menyebutnya dengan zaman kontemporer, adalah kondisi zaman dimana dunia sudah mencapai kemapanan dan segala hal sangat senang untuk didapatkan. Zaman pasca-modern yang dimulai dari revolusi industri abad ke-19 M dan ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi serta mesin-mesin sebagai pembantu pekerjaan manusia, sampai saat ini, melahirkan manusia-manusia yang sedari kecil sudah bertemankan dengan kecanggihan alat-alat modern. Dikarenakan mapannya kondisi dunia dan dapat dikatakan tiada hal yang mustahil lagi untuk tidak dapat dimiliki, menimbulkan problem- problem kehidupan manusia zaman ini berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Gaya hidup hedonisme, konsumerisme, materialis, dan serba ketergantungan, menjadikan manusia modern ini menjadi buta dan dibutakan oleh dunia.
Misalnya, krisis moral yang merajalela dimana-mana, dikarenakan kepedulian terhadap sesama telah hilang dan tersingkirkan oleh ambisi nafsu duniawi mereka yang berakhir memilih untuk menjadi individualisme. Standar hidup bahagia dan berkualitas pun telah teralihkan dari apa yang ideal sebelumnya. Dunia dengan segala gemerlapnya yang menurut mereka adalah kebahagiaan, nyatanya tidaklah menjadi jawaban jujur dari lubuk hati terdalamnya. Karena memang nafsu bukanlah sesuatu yang tepat untuk dapat dijadikan sebagai leader. Sebenarnya hati mereka merasakan kehampaan dan kerinduan akan kebutuhan rohani dan spiritualitas. Manusia zaman ini kehilangan makna hidup yang sebenarnya, tentang siapa jati diri dari eksistensi mereka. Hidup mereka disetir oleh dorongan nafsu duniawi dan sulit sekali untuk dilawan.
Dunia saat ini mengalami kegalauan yang sangat memprihatinkan berupa mewabahnya penyakit mental atau yang disebut krisis spiritual sebagai penyakit eksistensial (existential illness). (Tohir, 2012). Manusia saat ini menjalani hidup tanpa arah dan tujuan yang pasti, dunia yang mereka jadikan sebagai kiblat ternyata tidaklah menjadi pemuas dari apa yang sebenarnya dibutuhkan. Hati mereka sebenarnya tahu apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan jasadnya. Akan tetapi jasadnya sudah dibuat buta oleh hawa nafsu yang sekarang mengendalikan diri dan bahkan mengambil kehidupannya. Zaman pasca-modern yang digadang-gadang sebagai puncak dari keberhasilan intelektual manusia ternyata bukanlah solusi dari problem intra dalam batin manusia itu sendiri.
Di zaman pasca modern seperti saat ini, kehidupan beragama dan spiritualitasnya nampaknya tidak lagi menjadi hal yang menarik. Di zaman yang serba berporos pada nilai rasionalitas, kehidupan beragama dan aspek spiritualitasnya dilihat sebagai suatu hal yang irasional dan takhayul belaka. Seseorang yang masih percaya akan hal demikian dicap kuno, kolot serta tentunya tidak rasional. Tasawuf yang dalam praktiknya penuh dengan gaya hidup menjauhi diri dari gemerlap dunia, agaknya tidak lagi memiliki tempat untuk bereksistensi. Namun justru terdapat fakta lain yang berbeda dengan apa yang mungkin kita kira demikian. Fakta lain yang mengatakan bahwa ternyata di tengah kegalauan dunia yang disebabkan karena keringnya aspek spiritualitas, mendorong dan memunculkan rasa haus dan upaya pencarian akan sesuatu yang dapat mengobati kegalauan tersebut. Kajian spritualitas seperti Tasawuf yang menjadi perhatian utamanya. Munculnya Tasawuf Modern atau Neo-Sufism sebagai pilihan untuk merespon kekeringan spiritual masyarakat modern tampaknya cukup beralasan. Karena krisis besar yang melanda umat manusia tidak dapat diatasi hanya dengan keunggulan iptek sebagai ideologi besar yang dianut oleh negara-negara di dunia (Noer, 2003).
“Pada saat ini, Tasawuf tidak hanya menarik perhatian para peneliti muslim atau orientalis, melainkan juga masyarakat umum yang akhir-akhir ini merasa terbelenggu oleh kecenderungan materialisme dan nihilisme modern, dan memang mereka memerlukan sesuatu yang bisa memuaskan dan menentramkan akal budi serta jiwa mereka, memulihkan kepercayaan diri dan sekaligus mengembalikan keutuhannya yang nyaris punah karena dorongan kehidupan profan, maka Tasawuf-lah yang diharapkan mampu mengembalikan makna riil maupun hakikat kemanusiaan.”
(al-Taftazani, 1997)
Mengutip dari Ken Wilber (1984) dalam bukunya yang berjudul Quantum Questions: Mystical Writings of The World’s Great Physicists, ia menyatakan bahwa pengalaman spiritual (mistis) tentang realitas batin atau kesadaran transendental, setara validitasnya dengan pengalaman observatif serta temuan ilmiah. Ini mengartikan pentingnya aspek spiritual dalam menghadapi serta turut menjawab tantangan hidup. Tasawuf sebagai pendalaman aspek spiritual di dalam agama Islam, menawarkan solusi dari krisis moral yang tengah melanda ini. Seyyed Hossein Nasr (1990) di salah satu risetnya menemukan data berupa keadaan atau kondisi di beberapa dekade terakhir ini terjadi peningkatan signifikan terhadap minat masyarakat terutama di kalangan terdidik kepada tasawuf atau sufisme.
Munculnya fenomena minat masyarakat saat ini yang tinggi terhadap tasawuf, menunjukkan relevansi tasawuf yang tak lekang tergerus zaman. Pemahaman umum tentang tasawuf sebagai jalan kezuhudan dan menolak segala hal duniawi perlu sedikit diluruskan. Pada hakikatnya, tasawuf memang mengajarkan kesederhanaan hidup, tetapi bukan berarti menjauhi dunia sepenuhnya, kesederhanaan hidup di dalam ajaran tasawuf adalah bijaksana memilih dan memilah mana yang benar-benar dibutuhkan oleh hidup, karena dengan tidak ketergantungan terhadap segala hal keduniawian, manusia akan dapat benar-benar sampai kepada puncak spiritualnya. Pada intinya, tasawuf berperan sebagai pembersih hati (tazkiyatun-nafs), sehingga akhirnya manusia sampai kepada kebijaksaan batiniah, berhasil meninggalkan segala sifat hayawaniyyah, dan menjadi penuh dengan rasa kesederhanaan (tawadhu’). (Sholikhin, 2013).
Perkembangan tasawuf saat ini, atau yang populer dengan istilah Tasawuf Modern atau Neo-Sufism, ternyata muncul di tempat-tempat tidak terkirakan, seperti di negara-negara barat yang saat ini banyak dibangun pusat atau lembaga kajian sufisme, lengkap dengan berbagai literatur klasik para sufi terdahulu, juga penerjemahan karya para sufi yang saat ini pun banyak dilakukan. Hal ini menjadi indikator kehausan masyarakat akan makna hidup dan mencoba menapaki jalan yang telah dilalui oleh para spiritualis terdahulu dalam pengembaraan pencarian makna hidupnya dan menemukan kesejatian. Sebab memang kodrat manusia hidup adalah mencari sesuatu yang sejati. Seperti dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun (2017):
“Sesuatu yang tak pernah berubah pada kehidupan sehari-hari setiap manusia dan semua masyarakat—kapan pun dan di mana pun—adalah kecenderungannya untuk mencari, membuat dan menyelenggarakan sesuatu yang awet, yang langgeng.”
(Emha Ainun Nadjib, 2017)
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang kerapkali melalaikan kita dari kesadaran akan hakikat dari eksistensi kita yang sesungguhnya, disadarkan kembali oleh tasawuf. Kesibukan manusia modern yang padat yang seringkali membuat diri lupa untuk memberi ruang refleksi, merenungi dan berkontemplasi tentang makna dan tujuan sejati hidpnya, kini dihadirkan kembali oleh ajaran klasik yang mulai diminati kembali. Tasawuf sebagai dimensi spiritual, menawarkan kebahagiaan serta kejelasan makna yang sesungguhnya melalui jalan kesederhanaan hidup, tidak terprovokasi kencangnya arus persaingan masyarakat modern yang berlomba-lomba mencapai tujuan serta kebahagiaan sementara mereka. Neo-Sufism bagaikan cawan yang berisi minuman segar di tengah teriknya siang yang menggerahkan. Ia menawarkan kesejatian di tengah orang-orang lain yang mengejar kepalsuan.
Referensi:
Fuady, M. Noor, Implementasi Ajaran Tasawuf Di Era Modern: Telaah Tentang Konsep Ajaran Zuhud dan Fakir, Jurnal Penelitian IAIN Antasari, 10, 18, 2005.
Khozin, Sufi Tanpa Tarekat: Praksis Keberagamaan Muslim Puritan, Malang: Madani. 2013.
Marhani, Aktualisasi Tasawuf Al-Ghazali Dalam Mengantisipasi Krisis Spiritual, Jurnal Fikratuna, 10 (1), 2018.
Nadjib, Emha Ainun, Tidak, Jibril Tidak Pensiun!, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2017.
Solikhin Muhammad, Sufi Modern: Mewujudkan Kebahagiaan, Menghilangkan Keterasingan, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2013.
Taftazani, Abu al-Wafa al-Ghanimi, Sufi dari Zaman ke Zaman, Bandung: Pustaka, 1997
Tohir, Moenir Nahrowi, Menjelajahi Eksistensi Tasawuf: Meniti Jalan Menuju Tuhan,
Jakarta: PT. As-Salam Sejahtera. 2012.
Wilber, Ken, Quantum Questions: Mystical Writings of The World’s Great Physicists, Boston: Shambhala Publications Inc, 1984.
Disusun Oleh:
Penulis :Muhammad Khothibul Umam
Editor : Ahmad Muzadi & Zikriani